MAKALAH
Kebutuhan
Nutrisi Pada Lanjut Usia
Disusun
oleh :
1. Anindita
Amalia Rizky (14.401.16.004)
2. Dita
Puri Rahayu (14.401.16.015)
3. Faiz
Adibi (14.401.16.026)
4. Harun
Alrosid (14.401.16.037)
YAYASAN
AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA
PRODI
DIII KEPERAWATAN
KRIKILAN-GLENMORE-BANYUWANGI
TAHUN
AKADEMIK 2016/2017
Lembar Pengesahan
Makalah Kebutuhan Nutrisi pada Lanjut Usia
Telah Disetujui Oleh:
Penyusun
Pembimbing
Kelompok
4
Lina
Agustiana S.Kep.Ns,M.Kes
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas berkat dan rahmat Nya kami dapat menyusun makalah yang mengangkat
tentang “Kebutuhan Nutrisi pada lanjut usia”.
Dalam
proses penyusunan makalah ini tentunya kami kelompok 4 mengalami berbagai
masalah. Namun berkat arahan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya makalah
ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Pada
kesempatan ini, kami kelompok 4 mengucapkan
terima kasih kepada dosen mata perkuliahan, yaitu ibu Lina Agustina,S.Kep.Ns, M.kes yang telah membimbing kami dalam proses
penyusunan makalah ini.
Kami
sebagai penyusun menyadari makalah ini
masih belum sempurna, baik dari isi maupun penjelasan dari makalah ini, maka
dari itu kami kelompok 4 meminta maaf
jika makalah kami masih banyak kekurangannya apabila ada kritik dan saran yang membangun
demi kesempurnaan makalah ini kami mengucapkan terima kasih.
Demikian
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita semua, khususnya program studi Gizi & Diet nantinya.
Krikilan, 22 Februari2017
Penulis
Daftar Isi
SAMPUL
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PENGESAHAN
KATA
PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR
ISI............................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah................................................................................................... 2
1.3
Tujuan..................................................................................................................... 2
1.4 Manfaat.................................................................................................................. 2
1.4 Manfaat.................................................................................................................. 2
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Lanjut Usia................................................................................................ 3
2.1 Konsep Lanjut Usia................................................................................................ 3
2.1.1 Definisi lanjut usia........................................................................................... 3
2.1.2 Batasan lanjut usia........................................................................................... 3
2.1.2 Batasan lanjut usia........................................................................................... 3
2.2
Kebutuhan Zat Gizi Pada Lanjut Usia................................................................... 5
2.2.1 Kalori............................................................................................................. 5
2.2.2 Karbohidrat dan serat.................................................................................... 5
2.2.3 Protein........................................................................................................... 5
2.2.4 Lemak............................................................................................................ 5
2.2.5 Vitamin dan mineral...................................................................................... 6
2.2.6 Air.................................................................................................................. 6
2.2.7 Pedoman umum gizi seimbang untuk lansia.................................................. 7
2.2.8 Pedoman memilih makanan yang sehat......................................................... 7
2.2.8 Pedoman memilih makanan yang sehat......................................................... 7
2.3
Perubahan-Prubahan Fisiologi Yang Terjadi Pada Lansia...................................... 8
2.3.1 Perubahan fisik.............................................................................................. 8
2.4
Resiko Penyakit Penyerta Pada Lansia (penyakit degenerative)............................ 9
2.4.1 Penggolongan penyakit-penyakit yang menyertai lansia............................... 10
2.4.2 Faktor-faktor penyebab kurang gizi pada lansia............................................ 11
2.4.3 Prinsip olahraga pada lansia........................................................................... 11
BAB III PENUTUP
2.4.1 Penggolongan penyakit-penyakit yang menyertai lansia............................... 10
2.4.2 Faktor-faktor penyebab kurang gizi pada lansia............................................ 11
2.4.3 Prinsip olahraga pada lansia........................................................................... 11
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan............................................................................................................. 12
3.2
Saran....................................................................................................................... 12
3.2.1 Saran untuk lansia.......................................................................................... 12
3.2.2 Saran untuk keluarga..................................................................................... 12
3.2.3 Saran untuk institusi pendidikan................................................................... 12
3.2.1 Saran untuk lansia.......................................................................................... 12
3.2.2 Saran untuk keluarga..................................................................................... 12
3.2.3 Saran untuk institusi pendidikan................................................................... 12
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................................. 13
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Meskipun banyak orang
mengharapkan masa pensiun, namun hanya beberapa yang siap menghadapi masa
lanjut usia. Dalam keadaan ini, keluarga dan masyarakat sekitarnya cenderung
untuk mengingkarinya. Sikap seperti ini patut disayangkan tetapi dapat
dipahami. Kebanyakan orang dapat mengatasi semua keterbatasan sampai mereka
berusia 80-an (Marmi, 2013).
Pada lansia di kota-kota
besar bayak terjadi kebiasaan makan terlalu banyak pada waktu muda. Hal ini
menyebabkan berat badan berlebih (kegemukan), apalagi pada lansia penggunaan
kalori berkurang karena berkurangnya aktifitas. Kegemukan merupakan salah satu
pencetus berbagai penyakit, misalnya penyakit jantung, kencin manis(diabetes
militus) dan darah tinggi (Hawari, 2001).
Sedangkan pada lansia yang
bermasalah pada sosial ekonominya dan juga gangguan penyakit bila konsumsi
kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari
normal. Apalagi hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan
kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan
terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi. Keadaan ini
dapat dilihat dengan mudah melaui penampilan umum, adanya kekurusan dan rendahnya
berat badan lseorang lansia dibanding dengan keadaan yang normal (R. Siti Maryam, 2008).
Seharusnya lansia lebih
mengutamakan pola makan dalam menjaga kesehatan dengan menu yang disajikan
untuk lansia harus mengandung gizi yang seimbang yakni mengandung sumber zat
energi, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur. Dalam hal ini kita bisa
mengacu pada makanan 4 sehat 5 sempurna . karena lansia mengalami kemunduran
dan keterbatasan maka konsistensi dan tekstur atau bentuk makanan harus
disesuaikan. Sebagai contoh : gangguan pada gigi(gigi ompong), maka bentuk
makanannya harus lunak , misal nasi di tim, lauk pauk di cincang(ayam di suwir, dangging sapi
dicincang atau di giling) (Marmi, 2013)
1.2
Rumusan
Masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan konsep lanjut usia ?
2. Zat
gizi apa yang dibutuhkan pada lanjut usia ?
3. Apa
Resiko penyakit degenerative pada lanjut usia ?
4. Apa
perubahan fisiologis pada lansia ?
1.3
Tujuan
1. Mahasiswa
dapat memahami apa yang dimaksud dengan konsep lanjut usia.
2. Mahasiswa
dapat memahami zat gizi apa yang dibutuhkan pada lanjut usia.
3. Mahasiswa
dapat memahami apa Resiko penyakit degenerative pada lanjut usia.
4. Mahasiswa
dapat memahami apa perubahan fisiologis pada lansia.
1.4
Manfaat
1.
Manfaat bagi
lansia
Agar lansia tahu akan pentingnya gizi bagi mereka supaya taraf hidup
mereka lebih maksimal dan menurunkan angka kesakitan dan kematian lanjut usia.
2.
Manfaat bagi keluarga
Keluarga supaya lebih paham akan
pentingnya kesehatan bagi lansia dalam memberikan asupan gizi. Dan keluarga
akan lebih tahu dalam menunjang taraf kesehatan lansia.
3.
Manfaat bagi instansi pendidikan
Sebagai tamabahan referensi dan bahan pustaka bagi Akademi
Kesehatan Rustida mengenai Kebutuhan
Nutrisi pada Lansia.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Lanjut Usia
2.1.1
Definisi
Lanjut Usia
Menurut World Health Organisation (WHO),
lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia
merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari
fase kehidupannya. Berdasarkan
definisi secara umum, seorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabial usianya 65
tahun keatas (Setianto, 2004). Lansia
bukan merupakan suatu penyakit, namun merupaknan tahap lanjut dari suatu proses
kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi
dengan stres lingkungan (Pudjiastuti &
Surini, 2003). Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan
seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap stres fisiologis.
Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta
peningkatan kepekaan secara individual (Hawari,
2001).
2.1.2
Batasan
Lanjut Usia
Berikut ini adalah batasan-batasan umur
umur yang mencakup batasan umur lansia dari pendapat berbagai ahli yang dikutip
dari (Nugroho,
2000).
1. Menurut
undang-undang Nomor 13 tahun 1998 dalam bab 1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia
adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas”.
2. Menurut
Wolrd Health Organization (WHO)
Usia pertengahan (middle age) : 45 – 59 tahun
Usia lanjut (elderly) : 60 – 74 tahun
Usia lanjut tua (old) : 75 – 90 tahun
Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun
Usia pertengahan (middle age) : 45 – 59 tahun
Usia lanjut (elderly) : 60 – 74 tahun
Usia lanjut tua (old) : 75 – 90 tahun
Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun
3. Menurut
Prof. Dr. Ny . Sumiati Ahmad Muhammad
Masa bayi : 0 – 1 tahun
Masa prasekolah : 1 – 6 tahun
Masa sekolah : 6 – 10 tahun
Masa pubertas : 10 – 20 tahun
Masa dewasa : 20 – 40 tahun
Masa setengah umur : 40 – 65 tahun
Masa lanjut usia : 65 tahun ke atas
Masa prasekolah : 1 – 6 tahun
Masa sekolah : 6 – 10 tahun
Masa pubertas : 10 – 20 tahun
Masa dewasa : 20 – 40 tahun
Masa setengah umur : 40 – 65 tahun
Masa lanjut usia : 65 tahun ke atas
4. Menurut
Dra. Jos Masdani (psikolog UI)
Lanjut usia merupakn kelnjutan usia
dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi 4 bagian sebagai berikut:
Pertama (fase inventus) : 25 – 40 tahun
Kedua (fase virilitas) : 40 – 55 tahun
Ketiga (fase presenium) : 55 – 65 tahun
Keempat(fase senium) : 65 tahun hingga tutup usia
5. Menurut
Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro
Masa dewasa muda (elderly adulthood) :
18 atau 20-25 tahun
Masa dewasa penuh/ maturitas (middle years) : 25 – 60 atau 65 tahun
Masa dewasa penuh/ maturitas (middle years) : 25 – 60 atau 65 tahun
Masa lanjut usia : > 65 atau 70
tahun
6. Masa
lanjut usia (geriatric age) itu
sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu young old (70-75 tahun), old (75-80
tahun), dan very old (>80 tahun).
Birren dan jenner (1997) mengusulkan utuk membedakan usia antara usia biologis, usia psikologis, dan usia sosial. Usia biologis adalah usia yang menunjuk apda jangka seseorang sejak lahirnya, berada dalam keadaan hidup, tidak mati. Usia psikologis adalah usia yang menunjuk pada kemampuan seseorang untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian kepada situasi yang dihadapinya. Sedangkan, usia sosial adalah usia yang menunjuk kepada peran-peran yang diharapkan atau diberikan masyarakat kepada seseorang sehubungan dengan usianya.
2.2
Kebutuhan
Zat Gizi Pada Lanjut Usia.
Menurut (Marmi, 2013) kebutuhan gizi pada
lansia yaitu:
2.2.1
Kalori
Hasil
hasil penlitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada lansia
menurunkan sekiar 15-20%, di sebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas.
Kebutuhan kalori akan menurun sekitar 10% pada usia 50-59 tahun serta 60-69
usia (>60 tahun) laki-laki 2200 kalori dan wanita 1850 kalori. Bagi lansia
komposisi energy sebaiknya 20-25% berasal dari protein,20% dari lemak, dan
sisannya dari karbohidrat.
2.2.2
Karbohidrat
dan serat makanan
Salah
satu masalah yang banyak diderita lansia adalah konstipasi dan terbentuknya
bnjolan pada usus. Serat makanan telah terbukti dapat menyembuhkannya. Manula
tidak dianjurkan mengonsumsi suplemen serat, karena dikuartirkan konsumsi
seratnya teralu banyak, yang dapat menyebabkan mineral dan gizi lain trserap
oleh serat. Lansia dianjurkan untuk mengurangi gula sederhana dan menggantinya
dengan karbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang dan biji-bijiansebagai sumber
energy dan sumber serat.
2.2.3
Protein
Pada
lansia,masa ototnya berkurang. Tetapi kebutuhan proteinnya tidak berkurang ,
bahkan harus lebih tinggi dari orang dewasa,karena pada lansia efisiensi
penggunaan senyawa nitrogen(protein) oleh tubuh telah berkurang(disebabkan
pencernaan an penyerapan kurang efesien). Beberapa penelitian merekomendasikan,
untuk lansia sebaiknya kosumsi protein sebesar 12-14%. Laki-laki 50 gram/hari
dan wanita 44 gram/hari.
2.2.4
Lemak
Konsumsi
lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan.
Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih 40% dari konsumsi energi) dapat
menimbulkan penyakit arteriosclerosis (
penyumbatan pembulu darah ke jantung). Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak
tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly unsaturated faty acid).
2.2.5
Vitamin
dan mineral
Hasil
penlitian menyimpulan bahwa umummya lansia kurang mengonsumsi vitamin
A,B1,B2,B6,niasin,aam folat, vitamin C, D, dan E umumnya disebkan kurangnya
mengonsumsi makanan, khususnya buah dan sayuran, kekurangan mineral yang paling
banyak diderita lansia adalah kurang kalsium yang menyebabkan osteoporosis dan
kekurangan fe menyebabkan anamia
2.2.6
Air
Pada lansia di anjurkan minum lebih dari
6-8 gelas per hari. (Marmi, 2013)
Tabel AKG energy dan zat gizi
yang dianjurkan untuk lansia dalam hari :
yang dianjurkan untuk lansia dalam hari :
Komposisi
|
Laki-laki
|
perempuan
|
Energi (Kal)
|
1960
|
1700
|
Protein (gram)
|
50
|
44
|
Vitamin A (RE)
|
600
|
700
|
Tahuniamin (mg)
|
0,8
|
0,7
|
Riboflavin (mg)
|
1,0
|
0,9
|
Niasin (mg)
|
8,6
|
7,5
|
Vitamin B12 (mg)
|
1
|
1
|
Asam folat (mcg)
|
170
|
150
|
Vitamin C (mg)
|
40
|
30
|
Kalsium (mg)
|
500
|
500
|
Fosfor (mg)
|
500
|
450
|
Besi (mg)
|
13
|
16
|
Seng(mg)
|
15
|
15
|
Iodium (mcg)
|
150
|
150
|
2.2.7 Pedoman Umum Gizi Seimbang Untuk Lansia
Menurut (Tamher & Noorkasiani, 2009)
pedoman umum gizi seimbang lansia sebagai berikut :
1.
Makanlah aneka ragam makanan. Lansia
sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan yang tingi zat kapur dan zat besi
seperti yang terdapat pada ikan, daging, susu rendah lemak, kacang-kacangan dan
sayuran berwarna.
2.
Makanlah sumber karbohidrat kompleks
(serealia dan umbi). Karbohidrat dipelukan guna memenuhi kebutuhan energi.
3.
Batasi minyak dan lemak secara
berlebihan. Bagi lansia, mengkonsumsi bahan makanan berlemak akan menambah
resiko terjadinya berbagai penyakit degeneratif misalnya tekanan darah tinggi,
jantung, ginjal, dan sbagainya.
4.
Makanlah sumber zat besi secara
bergantian antara sumber hewani dan nabati..
2.2.8
Pedoman Memilih Bahan Makanan Yang Sehat
Menurut (R. Siti
Maryam, 2008) pedoman memilih makanan yang sehat yaitu :
1.
Makanan yang beraneka ragam dan mengandung
gizi yang cukup.
2.
Makanan yang mudah di kunyah dan cerna .
3.
Protein yang berkualitas seperti susu,
telur, daging, dan ikan.
4.
Sumber karbohidrat seperti roti, daging,
dan sayur-sayuran berwarna hijau. Sebaiknnya konsumsi karbohidrat kompleks.
5.
Makanan yang terutama mengandung lemak
nabati serta kurangi makanan yang mengandung lemak hewani.
6.
Makanan yang mengandung zat besi seperti
kacang-kacangan, hati, daging, bayam, sayuran hijau, dan makanan yang
mengandung kalsium seperti ikan atau sayur-sayuran.
7.
Batasi makanan yang diawetkan.
8.
Minum air putih 6-8 gelas sehari karena
kebutuhan air meningkat serta untuk memperlancar proses metabolisme. Banyak
minum air putih dapat mencegah terjadinnya dehidrasi (kurangya cairan) serta menurunkan
resiko menderita batu ginjal.
2.3
Perubahan-Prubahan
Fisiologi Yang Terjadi Pada Lansia
Menurut
(Pudjiastuti & Surini, 2003)
perubahan - perubahan fisiologi yang terjadi pada lansia sebagai berikut
:
2.3.1
Perubahan
fisik
1.
Sel : Jumlah kurang, ukuran membesar,cairan
tubuh menurun,dan cairan intraselulermenurun.
2.
Kardiovakuler : Katup jantung menebal
dan kaku, kemampuan memompa darah menurun ( menurunnya kontraksi dan volume),
elastisitas pembulu darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembulu darah
perifer sehingga tekanan darah meningkat.
3.
Rspirasi: otot-otot pernapasan
kekuatannya menurun dan kaku, elastisitas paru menurun, kapasitas residu
meningkat sehingga menarik napas lebih berat, alveoli melebar dan jumlahnnya
menurun, kemampuan batuk menurun, serta terjadi penyempitan dalam brongkus.
4.
Persarafan : Saraf pancaindramengecil
sehinnga fungsinya menurun serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi
khususnya yang berhubungan engan setres. Berkurang atau hilangnya lapisan
mealin akson, sehingga menybabkan berkurangnnya respon motoric dan reflex.
5.
Muskulusskeletal : Cairan tulang menurun
sehingga mudah rapuh ( osteoporosis), bungkuk ( kifosis), pesendian membesar
dan menjadi kaku ( atrofi otot ), kram, tremor, tendon mengerut dan mengalami
skelerosis.
6.
Grastointestinal : esophagus melebar,
asam lambung menurun, lapar menurun dan paristaltik menurun sehingga daya
absorbs juga menurun. Ukuran lambung mengecil serta fungsi organ aksesori
menurun sehingga menyebabkan berkurangnya produksi hormone dan enzim pencernaan.
7.
Genitourinaria : Ginjal mengecil, aliran
darah ke ginjal menurun, penyaringan
diglomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan untuk
mengonsentrasi urin juga menurun.
8.
Vesika urinaria : otot-ototmelemah,
kapasitasnya menurun data retensi urine. Prostat : hipertrofi pada 75% lansia.
9.
Vagina : selaput lender mongering dan
sekresi menurun.
10.
Pendengaran : membrane timpani atrofi
sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulang pendengaran mengalami
kekakuan.
11.
Pengelihatan : respon terhadap sinar
menurun,adaptasi terhadap gelap menurun, akomodasi menurun, lapang pandang
menurun, dan katarak.
12.
Endokrin : fungsi hormone menurun.
13.
Kulit : keriput serta kulitkepala dan
rambut menipis. Rambut dalam hidung dan
telinga menebal. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut
memutih (uban), kelenjar keringat menurun dan fungsi kuku mengras dan rapuh,
dan kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk.
14.
Belajar dan memori : kemampuan belajar
masih ada tetapi relative menurun. Memori (daya ingat) menurun karena proses encoding menurun.
2.4.
Resiko
penyakit penyerta pada lansia (penyakit degenerative)
Menurut (Nugroho,
2008) penyakit penyerta pada lansia meliputi :
1.
Kegemukan atau obesitas
Keadaan ini disebabkan karena pola
konsumsi yang berlebih, terutama makan yang banyak mengandung lemak, protein,
dan karbohidrat yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Kegemukan biasanya terjadi
pada usia muda, bahkan sejak anak-anak. Proses metabolisme yang menurun pada
lansia bila tidak diimbangi dengan peningkatan aktivitas fisik atau penurunan
jumlah makanan, maka kalori yang berlebih diubah menjadi lemak yang
mengakibatkan kegemukan.
2.
Tualang keropos (osteoporosis)
Masa tulang telah mencapai maksimum pada
usia 35 tahun untuk waniat dan 45 untuk pria. Bila konsumsi kalsium kurang
dalam jangka waktu lama akan timbul kropos tulang (osteoporosis). Lansia
dianjurkan mengkonsumsi susu karena merupakan sumber kalium yang baik.
3.
Anemia
Penyebab anemia pada lansia adalah
kekurangan zat gizi Fe, asam folat, vitamin B12, dan protein. Faktor lainnya
adalah seperti kemuduran proses metabolisme sel darah merah (hemoglobin) juga
terjadi. Gejala yang tampak seperti cepat lelah, lesu, otot lemah, letih,
pucat, berdebar-debar, sesak napas waktu kerja, kesemutan, mengeluh sering
pusing, mata berkunang-kunang dan mengantuk serta konsetrasi menurun.Batas
normal jumlah sel darah merah dalam tubuh (Hb) adalah Pria dewasa: 13 – 18 gram/dl. Wanita dewasa: 11,5
– 16,5 gram/dl
4.
Gout (asam urat)
Asam urat dalam darah yang tinggi akan menyebabkan rasa nyeri dan
pembekakan sendi. Pada penderita gout hedaknya mengurangi mengkonsumsi lemak
asam urat yang tinggi dalam darah merupakan pencetus terjadinya batu ginjal.
5.
Kurang energi kronis (KEK)
Menurunya nafsu makan yang berkepanjangan
pada lansia akan menyebabkan berat badan menurun drastis. Hal ini.menyebabkan
jaringan ikat menjadi kriput dan badan kurus.
Zat gizi mikro yang kurang meliputi
hal-hal berikut:
1.
Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan
kekeringan pada selaput lendir mata dan sering dikaitkan dengan katarak pada
lansia.
2.
Kekurangan vitamin B1, asam folat dan
vitamin B12. Menyebabkan meningkatnya kadar homosistein sehingga menyebabkan
penebalan pembuluh darah dan resiko jantung koroner serta darah tinggi.
3.
Kekurangan vitamin C menyebabkan sariawan
di mulut dan perdarahan pada gusi.
4.
Kekurangan vitamin D menyebabkan penurunan
densitas tulang yang makin parah.
5.
Kekurangan vitamin E berkhasiat sebagai
antioksidan
6.
Diabetes Melitus Tipe 2
Kencing manis atau DM adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar
glukosa atau gula dalam darah yang disebabkan oleh tubuh tidak dapat
menggunakan glukosa atau gula dalam darah sebagai sumber energi
2.4.1. Penggolongan Penyakit-Penyakit Yang
Menyertai Lansia
Menurut (Tamher &
Noorkasiani, 2009) Daftar berikut ini dapat digunakan selaku
acuan tentang berbagai kondisi penyakit yang sering menyertai usia lanjut:
1.
Penyakit infaeksi.
2.
Trauma pada lansia, seperti fraktur kaput
femoralis dan luka dekubitus.
3.
Penyakit kardiovaskuler, seperti
hipertensi, stroke dan angina pektoris.
4.
Penyakit saluran pernapasan, seperti asma
dan TB paru.
5.
Kelainan neurologis, seperti ganguan
tidur, parkinson, gangguan panca indra, depresi dan demensia
2.4.2.
Faktor-faktor penyebab kurang gizi pada lansia
Menurut (Pudjiastuti & Surini, 2003) Faktor-faktor penyebab kurang gizi
pada lansia yaitu :
1.
Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat
kerusakan gigi atau ompong.
2.
Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan
terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
3.
Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
4.
Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
5.
Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya
menimbulkan konstipasi.
6.
Penyerapan makanan di usus menurun.
2.4.3.
Prinsip
olahraga pada lansia
Menurut (Santoso & Ismail,
2009) Prinsip
olahraga pada lansia yaitu :
1.
Pemanasan harus lebih lama (10-15
menit), menggerakkan seluruh sendi dan otot.
2.
Latihan otot (15-20 menit) untuk
meningkatkan kekuatan otot.
3.
Latiahn aerobik (50-60 menit) , latiahan
yang paling sederhana adalah jalan kaki 3 km/jam.
4.
Pendinginan (10-15 menit)
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Menurut World Health Organisation (WHO), lansia
adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Menurut
undang-undang Nomor 13 tahun 1998 dalam bab 1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia
adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas”.Lansia merupakan kelompok
umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kebutuhan zat gizi pada lanjut usia
meliputi kalori, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Resiko penyakit
penyerta pada lansia adalah kegemukan, tulang keropos, anemia, gout(asam urat),
KEK (kekurangan energi kronis).
Makanaan yg baik
untuk lansia adalah perbanyak makanan yang berserat, seperti sayuran dan
buah - buahan agar pencernaan lancar dan tidak sembelit. Hindari masakan dengan
bumbu yang merangsang seperti pedas atau asam karena dapat mengganggu kesehatan
lambung dan alat pencernaan. Kurangi pemakaian garam, yakni lebih dari 4
gram/hari, untuk mengurangi resiko darah tinggi. Kerangi santan daging yang
berlemak dan minyak, agar kolesterol darah tidak tinggi. Perbanyak makanan yang
berkalsium tinggi, sperti susu dan ikan dan perlu mengkonsumsi kalsium untuk
mengurangi tulang keropos.
3.2
Saran
3.2.1
Saran bagi Lansia
Lansia harus memperhatikan prinsip 4 sehat
5 sempurna dengan gizi yang disajikan harus seimbang menyesuaikan tekstur dan
bentuk makanan. Mengurangi makanan berlemak tinggi. Mengurangi atau menghindari
mengkonsumsi makanan yang mengandung garam natrium tinggi. Serta memperbanyak
makan buah, sayur dan air putih. Dan lansia harus mementingkan fisiknya seperti
berjalan kaki, dan senam ringan.
3.2.2
Saran bagi Keluarga
Lansia
Sebaiknya keluarga lansia lebih
memperhatikan asupan nutrisi, kesehatan, dan mengontrol aktivitas lansia.
keluarga lansia harus menyesuaikan tekstur dan bentuk makanannya. Dan menasehati
agar lansia tidak mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak.
3.2.3
Saran bagi
Instansi Pendidikan
Sebaiknya Akademi kesehatan Rustida
melakukan penyuluhan pada masyarakat khususnya masyarakat desa yang kurang paham
terhadap kebutuhan nutrisi pada lansia.
Daftar Pustaka
Hawari, D. (2001). Menejemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Marmi, S. M. (2013). Gizi dalam Keaehatan Reproduksi. Yogyakarta:
Puataka Pelajar.
Notoadmojo. (2010). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta:
Rineka.
Nugroho, W. (2008). Keperawatan Gariotik dan Geriatrik. Jakarta:
EGC.
Nugroho, W. (2000). Keperawatan Gerontik edisi 2. Jakarta: EGC.
Pudjiastuti, & Surini, S. (2003). Fisioterapi Pada Lansia.
Jakarta: EGC.
R. Siti Maryam, S. N. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya.
Jakarta: Salemba Merdika.
Santoso, H., & Ismail, A. (2009). Memahami Krisis Lanjut Usia.
Jakarta: Gunung Mulia.
Setianto. (2004). Pengaruh Aktifitas Sehari-hari Terhadap Keseimbangan
Pada. Jakarta: Unit Pres.
Tamher, S., & Noorkasiani. (2009). Kesehatan Usia Lanjut dengan
Pendekatan Asuhan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
download ppt kebutuhan gizi pada lansia Disini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar