Senin, 03 April 2017

KEBUTUHAN NUTRISI PADA LANJUT USIA

MAKALAH

Kebutuhan Nutrisi Pada Lanjut Usia
Disusun oleh :
1.     Anindita Amalia Rizky                  (14.401.16.004)
2.     Dita Puri Rahayu                 (14.401.16.015)
3.     Faiz Adibi                                      (14.401.16.026)
4.     Harun Alrosid                      (14.401.16.037)




YAYASAN AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA
PRODI DIII KEPERAWATAN
KRIKILAN-GLENMORE-BANYUWANGI
TAHUN AKADEMIK 2016/2017


Lembar Pengesahan
Makalah Kebutuhan Nutrisi pada Lanjut Usia



Telah Disetujui Oleh:


Penyusun                                                                                   Pembimbing



 Kelompok  4                                                              Lina Agustiana S.Kep.Ns,M.Kes






KATA PENGANTAR

Puji  syukur  kehadirat  Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat Nya kami dapat menyusun makalah yang mengangkat tentang “Kebutuhan Nutrisi pada lanjut usia”.
            Dalam proses penyusunan makalah ini tentunya kami kelompok 4 mengalami berbagai masalah. Namun berkat arahan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
            Pada kesempatan ini, kami  kelompok 4 mengucapkan terima kasih kepada dosen mata perkuliahan, yaitu ibu Lina Agustina,S.Kep.Ns, M.kes yang telah membimbing kami dalam proses penyusunan makalah ini.
            Kami sebagai penyusun  menyadari makalah ini masih belum sempurna, baik dari isi maupun penjelasan dari makalah ini, maka dari itu kami  kelompok 4 meminta maaf jika makalah kami masih banyak kekurangannya  apabila ada kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini kami mengucapkan terima kasih.
            Demikian  semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya program studi Gizi & Diet nantinya.


 Krikilan, 22 Februari2017


                                                                                                                 Penulis










Daftar Isi

SAMPUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................... 2
1.3 Tujuan..................................................................................................................... 2
1.4 Manfaat.................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Lanjut Usia................................................................................................ 3
    2.1.1 Definisi lanjut usia........................................................................................... 3
    2.1.2 Batasan lanjut usia........................................................................................... 3

2.2 Kebutuhan Zat Gizi Pada Lanjut Usia................................................................... 5
      2.2.1 Kalori............................................................................................................. 5
      2.2.2 Karbohidrat dan serat.................................................................................... 5
      2.2.3 Protein........................................................................................................... 5
      2.2.4 Lemak............................................................................................................ 5
      2.2.5 Vitamin dan mineral...................................................................................... 6
      2.2.6 Air.................................................................................................................. 6
        2.2.7 Pedoman umum gizi seimbang untuk lansia.................................................. 7
        2.2.8 Pedoman memilih makanan yang sehat......................................................... 7
2.3 Perubahan-Prubahan Fisiologi Yang Terjadi Pada Lansia...................................... 8
      2.3.1 Perubahan fisik.............................................................................................. 8

2.4 Resiko Penyakit Penyerta Pada Lansia (penyakit degenerative)............................ 9
      2.4.1 Penggolongan penyakit-penyakit yang menyertai lansia............................... 10
      2.4.2 Faktor-faktor penyebab kurang gizi pada lansia............................................ 11
      2.4.3 Prinsip olahraga pada lansia........................................................................... 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................................. 12
3.2 Saran....................................................................................................................... 12
        3.2.1 Saran untuk lansia.......................................................................................... 12
        3.2.2 Saran untuk keluarga..................................................................................... 12
        3.2.3 Saran untuk institusi pendidikan................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 13


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Meskipun banyak orang mengharapkan masa pensiun, namun hanya beberapa yang siap menghadapi masa lanjut usia. Dalam keadaan ini, keluarga dan masyarakat sekitarnya cenderung untuk mengingkarinya. Sikap seperti ini patut disayangkan tetapi dapat dipahami. Kebanyakan orang dapat mengatasi semua keterbatasan sampai mereka berusia 80-an (Marmi, 2013).
Pada lansia di kota-kota besar bayak terjadi kebiasaan makan terlalu banyak pada waktu muda. Hal ini menyebabkan berat badan berlebih (kegemukan), apalagi pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktifitas. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya penyakit jantung, kencin manis(diabetes militus) dan darah tinggi (Hawari, 2001).
Sedangkan pada lansia yang bermasalah pada sosial ekonominya dan juga gangguan penyakit bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apalagi hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi. Keadaan ini dapat dilihat dengan mudah melaui penampilan umum, adanya kekurusan dan rendahnya berat badan lseorang lansia dibanding dengan keadaan yang normal (R. Siti Maryam, 2008).
Seharusnya lansia lebih mengutamakan pola makan dalam menjaga kesehatan dengan menu yang disajikan untuk lansia harus mengandung gizi yang seimbang yakni mengandung sumber zat energi, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur. Dalam hal ini kita bisa mengacu pada makanan 4 sehat 5 sempurna . karena lansia mengalami kemunduran dan keterbatasan maka konsistensi dan tekstur atau bentuk makanan harus disesuaikan. Sebagai contoh : gangguan pada gigi(gigi ompong), maka bentuk makanannya harus lunak , misal nasi di tim, lauk  pauk di cincang(ayam di suwir, dangging sapi dicincang atau di giling) (Marmi, 2013)
1.2    Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan konsep lanjut usia ?
2.      Zat gizi apa yang dibutuhkan pada lanjut usia ?
3.      Apa Resiko penyakit degenerative pada lanjut usia ?
4.      Apa perubahan fisiologis pada lansia ?

1.3    Tujuan
1.      Mahasiswa dapat memahami apa yang dimaksud dengan konsep lanjut usia.
2.      Mahasiswa dapat memahami zat gizi apa yang dibutuhkan pada lanjut usia.
3.      Mahasiswa dapat memahami apa Resiko penyakit degenerative pada lanjut usia.
4.      Mahasiswa dapat memahami apa perubahan fisiologis pada lansia.

1.4     Manfaat
1.        Manfaat bagi lansia
Agar lansia tahu akan pentingnya gizi bagi mereka supaya taraf hidup mereka lebih maksimal dan menurunkan angka kesakitan dan kematian lanjut usia.
2.                    Manfaat bagi keluarga
Keluarga supaya lebih paham akan pentingnya kesehatan bagi lansia dalam memberikan asupan gizi. Dan keluarga akan lebih tahu dalam menunjang taraf kesehatan lansia.
3.                    Manfaat bagi instansi pendidikan
Sebagai tamabahan referensi dan bahan pustaka bagi Akademi Kesehatan Rustida mengenai Kebutuhan Nutrisi pada Lansia.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Konsep Lanjut Usia
2.1.1        Definisi  Lanjut Usia
Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Berdasarkan definisi secara umum, seorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabial usianya 65 tahun keatas (Setianto, 2004). Lansia bukan merupakan suatu penyakit, namun merupaknan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan (Pudjiastuti & Surini, 2003). Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual (Hawari, 2001).
2.1.2        Batasan Lanjut Usia
Berikut ini adalah batasan-batasan umur umur yang mencakup batasan umur lansia dari pendapat berbagai ahli yang dikutip dari (Nugroho, 2000).
1.      Menurut undang-undang Nomor 13 tahun 1998 dalam bab 1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas”.

2.      Menurut Wolrd Health Organization (WHO)
Usia pertengahan (middle age)                             : 45 – 59 tahun
Usia lanjut (elderly)                                               : 60 – 74 tahun
Usia lanjut tua (old)                                              : 75 – 90 tahun
Usia sangat tua (very old)                                     : diatas 90 tahun





3.      Menurut Prof. Dr. Ny . Sumiati Ahmad Muhammad
Masa bayi                                                             : 0 – 1 tahun
Masa prasekolah                                                   : 1 – 6 tahun
Masa sekolah                                                        : 6 – 10 tahun
Masa pubertas                                                      : 10 – 20 tahun
Masa dewasa                                                        : 20 – 40 tahun
Masa setengah umur                                            : 40 – 65 tahun
Masa lanjut usia                                                   : 65  tahun ke atas

4.      Menurut Dra. Jos Masdani (psikolog UI)
Lanjut usia merupakn kelnjutan usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi 4 bagian sebagai berikut:
Pertama (fase inventus)                                        : 25 – 40 tahun
Kedua (fase virilitas)                                            : 40 – 55 tahun
Ketiga (fase presenium)                                       : 55 – 65 tahun
Keempat(fase senium)                                          : 65 tahun hingga tutup usia

5.      Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro
Masa dewasa muda (elderly adulthood)              : 18 atau 20-25 tahun
Masa dewasa penuh/ maturitas (middle years)    : 25 – 60 atau 65 tahun
Masa lanjut usia                                                   : > 65 atau 70 tahun

6.      Masa lanjut usia (geriatric age) itu sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu young old (70-75 tahun), old (75-80 tahun), dan very old (>80 tahun).

Birren dan jenner (1997) mengusulkan utuk membedakan usia antara usia biologis, usia psikologis, dan usia sosial. Usia biologis adalah usia yang menunjuk apda jangka seseorang sejak lahirnya, berada dalam keadaan hidup, tidak mati. Usia psikologis adalah usia yang menunjuk pada kemampuan seseorang untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian kepada situasi yang dihadapinya.  Sedangkan, usia sosial adalah usia yang menunjuk kepada peran-peran yang diharapkan atau diberikan masyarakat kepada seseorang sehubungan dengan usianya.  
2.2       Kebutuhan Zat Gizi Pada Lanjut Usia.
Menurut  (Marmi, 2013) kebutuhan gizi pada lansia yaitu:
2.2.1        Kalori   
Hasil hasil penlitian menunjukan bahwa kecepatan metabolisme basal pada lansia menurunkan sekiar 15-20%, di sebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas. Kebutuhan kalori akan menurun sekitar 10% pada usia 50-59 tahun serta 60-69 usia (>60 tahun) laki-laki 2200 kalori dan wanita 1850 kalori. Bagi lansia komposisi energy sebaiknya 20-25% berasal dari protein,20% dari lemak, dan sisannya dari karbohidrat.

2.2.2        Karbohidrat dan serat makanan
Salah satu masalah yang banyak diderita lansia adalah konstipasi dan terbentuknya bnjolan pada usus. Serat makanan telah terbukti dapat menyembuhkannya. Manula tidak dianjurkan mengonsumsi suplemen serat, karena dikuartirkan konsumsi seratnya teralu banyak, yang dapat menyebabkan mineral dan gizi lain trserap oleh serat. Lansia dianjurkan untuk mengurangi gula sederhana dan menggantinya dengan karbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang dan biji-bijiansebagai sumber energy dan sumber serat.

2.2.3        Protein
Pada lansia,masa ototnya berkurang. Tetapi kebutuhan proteinnya tidak berkurang , bahkan harus lebih tinggi dari orang dewasa,karena pada lansia efisiensi penggunaan senyawa nitrogen(protein) oleh tubuh telah berkurang(disebabkan pencernaan an penyerapan kurang efesien). Beberapa penelitian merekomendasikan, untuk lansia sebaiknya kosumsi protein sebesar 12-14%. Laki-laki 50 gram/hari dan wanita 44 gram/hari.

2.2.4        Lemak
Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi (lebih 40% dari konsumsi energi) dapat menimbulkan penyakit arteriosclerosis ( penyumbatan pembulu darah ke jantung). Juga dianjurkan 20% dari konsumsi lemak tersebut adalah asam lemak tidak jenuh (PUFA = poly unsaturated faty acid).

2.2.5        Vitamin dan mineral
Hasil penlitian menyimpulan bahwa umummya lansia kurang mengonsumsi vitamin A,B1,B2,B6,niasin,aam folat, vitamin C, D, dan E umumnya disebkan kurangnya mengonsumsi makanan, khususnya buah dan sayuran, kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang kalsium yang menyebabkan osteoporosis dan kekurangan fe menyebabkan anamia

2.2.6        Air
Pada lansia di anjurkan minum lebih dari 6-8 gelas per hari. (Marmi, 2013)

Tabel AKG energy dan zat gizi
yang dianjurkan untuk lansia dalam hari :
Komposisi
Laki-laki
perempuan
Energi (Kal)
1960
1700
Protein (gram)
50
44
Vitamin A (RE)
600
700
Tahuniamin (mg)
0,8
0,7
Riboflavin (mg)
1,0
0,9
Niasin (mg)
8,6
7,5
Vitamin B12 (mg)
1
1
Asam folat (mcg)
170
150
Vitamin C (mg)
40
30
Kalsium (mg)
500
500
Fosfor (mg)
500
450
Besi (mg)
13
16
Seng(mg)
15
15
Iodium (mcg)
150
150
















2.2.7     Pedoman Umum Gizi Seimbang Untuk Lansia
Menurut  (Tamher & Noorkasiani, 2009) pedoman umum gizi seimbang lansia sebagai berikut :
1.        Makanlah aneka ragam makanan. Lansia sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan yang tingi zat kapur dan zat besi seperti yang terdapat pada ikan, daging, susu rendah lemak, kacang-kacangan dan sayuran berwarna.
2.        Makanlah sumber karbohidrat kompleks (serealia dan umbi). Karbohidrat dipelukan guna memenuhi kebutuhan energi.
3.        Batasi minyak dan lemak secara berlebihan. Bagi lansia, mengkonsumsi bahan makanan berlemak akan menambah resiko terjadinya berbagai penyakit degeneratif misalnya tekanan darah tinggi, jantung, ginjal, dan sbagainya.
4.        Makanlah sumber zat besi secara bergantian antara sumber hewani dan nabati..
2.2.8        Pedoman Memilih Bahan Makanan Yang Sehat
Menurut  (R. Siti Maryam, 2008) pedoman memilih makanan yang sehat yaitu :
1.        Makanan yang beraneka ragam dan mengandung gizi yang cukup.
2.        Makanan yang mudah di kunyah dan cerna .
3.        Protein yang berkualitas seperti susu, telur, daging, dan ikan.
4.        Sumber karbohidrat seperti roti, daging, dan sayur-sayuran berwarna hijau. Sebaiknnya konsumsi karbohidrat kompleks.
5.        Makanan yang terutama mengandung lemak nabati serta kurangi makanan yang mengandung lemak hewani.
6.        Makanan yang mengandung zat besi seperti kacang-kacangan, hati, daging, bayam, sayuran hijau, dan makanan yang mengandung kalsium seperti ikan atau sayur-sayuran.
7.        Batasi makanan yang diawetkan.
8.        Minum air putih 6-8 gelas sehari karena kebutuhan air meningkat serta untuk memperlancar proses metabolisme. Banyak minum air putih dapat mencegah terjadinnya dehidrasi (kurangya cairan) serta menurunkan resiko menderita batu ginjal.



2.3       Perubahan-Prubahan Fisiologi Yang Terjadi Pada Lansia
Menurut  (Pudjiastuti & Surini, 2003) perubahan - perubahan fisiologi yang terjadi pada lansia sebagai berikut :
2.3.1        Perubahan fisik
1.        Sel : Jumlah kurang, ukuran membesar,cairan tubuh menurun,dan cairan intraselulermenurun.
2.        Kardiovakuler : Katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa darah menurun ( menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembulu darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembulu darah perifer sehingga tekanan darah meningkat.
3.        Rspirasi: otot-otot pernapasan kekuatannya menurun dan kaku, elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik napas lebih berat, alveoli melebar dan jumlahnnya menurun, kemampuan batuk menurun, serta terjadi penyempitan dalam brongkus.
4.        Persarafan : Saraf pancaindramengecil sehinnga fungsinya menurun serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan engan setres. Berkurang atau hilangnya lapisan mealin akson, sehingga menybabkan berkurangnnya respon motoric dan reflex.
5.        Muskulusskeletal : Cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh ( osteoporosis), bungkuk ( kifosis), pesendian membesar dan menjadi kaku ( atrofi otot ), kram, tremor, tendon mengerut dan mengalami skelerosis.
6.        Grastointestinal : esophagus melebar, asam lambung menurun, lapar menurun dan paristaltik menurun sehingga daya absorbs juga menurun. Ukuran lambung mengecil serta fungsi organ aksesori menurun sehingga menyebabkan berkurangnya produksi hormone dan enzim pencernaan.
7.        Genitourinaria : Ginjal mengecil, aliran darah ke ginjal  menurun, penyaringan diglomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan untuk mengonsentrasi urin juga menurun.
8.        Vesika urinaria : otot-ototmelemah, kapasitasnya menurun data retensi urine. Prostat : hipertrofi pada 75% lansia.
9.        Vagina : selaput lender mongering dan sekresi menurun.
10.    Pendengaran : membrane timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan.
11.    Pengelihatan : respon terhadap sinar menurun,adaptasi terhadap gelap menurun, akomodasi menurun, lapang pandang menurun, dan katarak.
12.    Endokrin : fungsi hormone menurun.
13.    Kulit : keriput serta kulitkepala dan rambut menipis. Rambut dalam hidung dan  telinga menebal. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutih (uban), kelenjar keringat menurun dan fungsi kuku mengras dan rapuh, dan kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk.
14.    Belajar dan memori : kemampuan belajar masih ada tetapi relative menurun. Memori (daya ingat) menurun karena proses encoding menurun.

2.4.    Resiko penyakit penyerta pada lansia (penyakit degenerative)
Menurut  (Nugroho, 2008) penyakit penyerta pada lansia meliputi :
1.         Kegemukan atau obesitas
Keadaan ini disebabkan karena pola konsumsi yang berlebih, terutama makan yang banyak mengandung lemak, protein, dan karbohidrat yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Kegemukan biasanya terjadi pada usia muda, bahkan sejak anak-anak. Proses metabolisme yang menurun pada lansia bila tidak diimbangi dengan peningkatan aktivitas fisik atau penurunan jumlah makanan, maka kalori yang berlebih diubah menjadi lemak yang mengakibatkan kegemukan.

2.         Tualang keropos (osteoporosis)
Masa tulang telah mencapai maksimum pada usia 35 tahun untuk waniat dan 45 untuk pria. Bila konsumsi kalsium kurang dalam jangka waktu lama akan timbul kropos tulang (osteoporosis). Lansia dianjurkan mengkonsumsi susu karena merupakan sumber kalium yang baik.

3.         Anemia
Penyebab anemia pada lansia adalah kekurangan zat gizi Fe, asam folat, vitamin B12, dan protein. Faktor lainnya adalah seperti kemuduran proses metabolisme sel darah merah (hemoglobin) juga terjadi. Gejala yang tampak seperti cepat lelah, lesu, otot lemah, letih, pucat, berdebar-debar, sesak napas waktu kerja, kesemutan, mengeluh sering pusing, mata berkunang-kunang dan mengantuk serta konsetrasi menurun.Batas normal jumlah sel darah merah dalam tubuh (Hb) adalah  Pria dewasa: 13 – 18 gram/dl. Wanita dewasa: 11,5 – 16,5 gram/dl

4.      Gout (asam urat)
Asam urat dalam darah yang tinggi akan menyebabkan rasa nyeri dan pembekakan sendi. Pada penderita gout hedaknya mengurangi mengkonsumsi lemak asam urat yang tinggi dalam darah merupakan pencetus terjadinya batu ginjal.

5.             Kurang energi kronis (KEK)
Menurunya nafsu makan yang berkepanjangan pada lansia akan menyebabkan berat badan menurun drastis. Hal ini.menyebabkan jaringan ikat menjadi kriput dan badan kurus.
Zat gizi mikro yang kurang meliputi hal-hal berikut:
1.        Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan kekeringan pada selaput lendir mata dan sering dikaitkan dengan katarak pada lansia.
2.        Kekurangan vitamin B1, asam folat dan vitamin B12. Menyebabkan meningkatnya kadar homosistein sehingga menyebabkan penebalan pembuluh darah dan resiko jantung koroner serta darah tinggi.
3.        Kekurangan vitamin C menyebabkan sariawan di mulut dan perdarahan pada gusi.
4.        Kekurangan vitamin D menyebabkan penurunan densitas tulang yang makin parah.
5.        Kekurangan vitamin E berkhasiat sebagai antioksidan

6.        Diabetes Melitus Tipe 2
Kencing manis atau DM adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa atau gula dalam darah yang disebabkan oleh tubuh tidak dapat menggunakan glukosa atau gula dalam darah sebagai sumber energi

2.4.1.      Penggolongan Penyakit-Penyakit Yang Menyertai Lansia
Menurut (Tamher & Noorkasiani, 2009) Daftar berikut ini dapat digunakan selaku acuan tentang berbagai kondisi penyakit yang sering menyertai usia lanjut:
1.        Penyakit infaeksi.
2.        Trauma pada lansia, seperti fraktur kaput femoralis dan luka dekubitus.
3.        Penyakit kardiovaskuler, seperti hipertensi, stroke dan angina pektoris.
4.        Penyakit saluran pernapasan, seperti asma dan TB paru.
5.        Kelainan neurologis, seperti ganguan tidur, parkinson, gangguan panca indra, depresi dan demensia

2.4.2.      Faktor-faktor penyebab kurang gizi pada lansia
Menurut  (Pudjiastuti & Surini, 2003) Faktor-faktor penyebab kurang gizi pada lansia yaitu :
1.        Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong.
2.        Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
3.        Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
4.        Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
5.        Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi.
6.        Penyerapan makanan di usus menurun.

2.4.3.      Prinsip olahraga pada lansia
Menurut  (Santoso & Ismail, 2009) Prinsip olahraga pada lansia yaitu :
1.        Pemanasan harus lebih lama (10-15 menit), menggerakkan seluruh sendi dan otot.
2.        Latihan otot (15-20 menit) untuk meningkatkan kekuatan otot.
3.        Latiahn aerobik (50-60 menit) , latiahan yang paling sederhana adalah jalan kaki 3 km/jam.
4.        Pendinginan (10-15 menit)
BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Menurut undang-undang Nomor 13 tahun 1998 dalam bab 1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas”.Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kebutuhan zat gizi pada lanjut usia meliputi kalori, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Resiko penyakit penyerta pada lansia adalah kegemukan, tulang keropos, anemia, gout(asam urat), KEK (kekurangan energi kronis).
Makanaan yg baik  untuk lansia adalah perbanyak makanan yang berserat, seperti sayuran dan buah - buahan agar pencernaan lancar dan tidak sembelit. Hindari masakan dengan bumbu yang merangsang seperti pedas atau asam karena dapat mengganggu kesehatan lambung dan alat pencernaan. Kurangi pemakaian garam, yakni lebih dari 4 gram/hari, untuk mengurangi resiko darah tinggi. Kerangi santan daging yang berlemak dan minyak, agar kolesterol darah tidak tinggi. Perbanyak makanan yang berkalsium tinggi, sperti susu dan ikan dan perlu mengkonsumsi kalsium untuk mengurangi tulang keropos.
3.2       Saran
3.2.1         Saran bagi Lansia
Lansia harus memperhatikan prinsip 4 sehat 5 sempurna dengan gizi yang disajikan harus seimbang menyesuaikan tekstur dan bentuk makanan. Mengurangi makanan berlemak tinggi. Mengurangi atau menghindari mengkonsumsi makanan yang mengandung garam natrium tinggi. Serta memperbanyak makan buah, sayur dan air putih. Dan lansia harus mementingkan fisiknya seperti berjalan kaki, dan senam ringan.

3.2.2        Saran bagi Keluarga Lansia
Sebaiknya keluarga lansia lebih memperhatikan asupan nutrisi, kesehatan, dan mengontrol aktivitas lansia. keluarga lansia harus menyesuaikan tekstur dan bentuk makanannya. Dan menasehati agar lansia tidak mengkonsumsi makanan  yang tinggi lemak.
3.2.3        Saran bagi Instansi Pendidikan
Sebaiknya Akademi kesehatan Rustida melakukan penyuluhan pada masyarakat khususnya masyarakat desa yang kurang paham terhadap kebutuhan nutrisi pada lansia.






Daftar Pustaka
Hawari, D. (2001). Menejemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Marmi, S. M. (2013). Gizi dalam Keaehatan Reproduksi. Yogyakarta: Puataka Pelajar.
Notoadmojo. (2010). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka.
Nugroho, W. (2008). Keperawatan Gariotik dan Geriatrik. Jakarta: EGC.
Nugroho, W. (2000). Keperawatan Gerontik edisi 2. Jakarta: EGC.
Pudjiastuti, & Surini, S. (2003). Fisioterapi Pada Lansia. Jakarta: EGC.
R. Siti Maryam, S. N. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Merdika.
Santoso, H., & Ismail, A. (2009). Memahami Krisis Lanjut Usia. Jakarta: Gunung Mulia.
Setianto. (2004). Pengaruh Aktifitas Sehari-hari Terhadap Keseimbangan Pada. Jakarta: Unit Pres.
Tamher, S., & Noorkasiani. (2009). Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.






download ppt kebutuhan gizi pada lansia Disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar